Bukan Sekadar Menuruti Anak, Ini Pentingnya Parenting yang Responsif di Era Digital
Bandung, 19 Agustus 2026 — Menjadi orang tua di era digital menghadirkan tantangan yang semakin kompleks. Anak tumbuh dalam lingkungan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Sejak usia dini, mereka dapat dengan mudah berinteraksi dengan gawai, video, permainan digital, hingga berbagai konten dari media sosial.
Di tengah perubahan tersebut, pola pengasuhan tidak cukup hanya berfokus pada bagaimana anak menjadi pintar atau mengikuti aturan. Orang tua juga perlu memperhatikan kemampuan anak dalam mengenali emosi, berkomunikasi, mengendalikan diri, serta membangun hubungan yang sehat dengan orang lain.
Kondisi inilah yang membuat konsep parenting responsif semakin penting diterapkan dalam kehidupan keluarga.
Memahami Anak Sebelum Memberikan Respons
Parenting responsif bukan berarti orang tua harus selalu menuruti keinginan anak. Sebaliknya, pengasuhan responsif mengajarkan orang tua untuk memahami kebutuhan dan emosi anak sebelum menentukan respons.
Ketika anak menangis karena tidak diperbolehkan menggunakan gawai, misalnya, orang tua tidak harus langsung memberikan gawai agar anak berhenti menangis. Orang tua dapat terlebih dahulu membantu anak memahami perasaannya.
“Dari wajah dan tangisanmu, sepertinya kamu kecewa karena waktu bermainnya sudah selesai.”
Kalimat sederhana seperti itu membantu anak belajar bahwa perasaan mereka dapat dikenali dan diberi nama. Setelah emosi lebih tenang, orang tua dapat tetap memberikan batasan dengan tegas namun hangat.
“Bunda tahu kamu masih ingin bermain. Tetapi sekarang waktunya berhenti. Besok kita bisa bermain lagi.”
Dengan cara tersebut, anak belajar dua hal sekaligus: perasaannya diterima, tetapi tidak semua keinginannya harus dipenuhi.
Anak Tidak Hanya Membutuhkan Aturan
Dalam pengasuhan, aturan memang penting. Anak membutuhkan batasan agar memahami mana perilaku yang dapat diterima dan mana yang tidak. Namun, aturan tanpa koneksi emosional terkadang membuat anak hanya belajar takut terhadap hukuman.
Sebaliknya, ketika orang tua membangun hubungan yang hangat, anak memiliki kesempatan untuk memahami alasan di balik sebuah aturan.
Misalnya, daripada mengatakan:
“Jangan berlari!”
Orang tua dapat memberikan arahan yang lebih spesifik:
“Kita berjalan di dalam rumah supaya tidak jatuh. Kalau mau berlari, kita bisa bermain di halaman.”
Perbedaan kalimat tersebut terlihat sederhana, tetapi memberikan pengalaman belajar yang berbeda. Anak tidak hanya mendengar larangan, tetapi juga memahami alasan dan mendapatkan alternatif perilaku.
Tantangan Parenting di Tengah Penggunaan Gawai
Gawai menjadi salah satu tantangan yang banyak dihadapi keluarga saat ini. Permasalahannya bukan semata-mata mengenai ada atau tidaknya penggunaan teknologi, tetapi bagaimana teknologi digunakan dalam kehidupan anak.
Orang tua perlu memperhatikan durasi, jenis konten, situasi penggunaan, serta pendampingan ketika anak menggunakan perangkat digital.
Gawai sebaiknya tidak selalu menjadi “jalan keluar tercepat” ketika anak bosan, menangis, atau sulit diam. Anak juga membutuhkan kesempatan untuk bermain secara langsung, bergerak, berbicara, berimajinasi, dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.
Keseimbangan menjadi kunci. Anak membutuhkan dunia digital, tetapi mereka juga membutuhkan dunia nyata.
Orang Tua Tidak Harus Sempurna
Salah satu jebakan dalam parenting modern adalah munculnya tuntutan untuk menjadi orang tua yang selalu benar. Berbagai informasi mengenai pengasuhan dapat dengan mudah ditemukan di media sosial. Namun, terlalu banyak informasi terkadang justru membuat orang tua merasa bersalah ketika tidak mampu menerapkan semuanya.
Padahal, parenting bukan tentang menjadi orang tua yang sempurna.
Orang tua dapat kehilangan kesabaran. Orang tua dapat melakukan kesalahan. Yang penting adalah kemampuan untuk memperbaiki hubungan setelah terjadi konflik.
Ketika orang tua terlanjur membentak, misalnya, orang tua dapat mengatakan:
“Tadi Ayah terlalu keras berbicara. Ayah sedang marah, tetapi Ayah seharusnya tidak membentak. Maaf, ya.”
Permintaan maaf tersebut bukan berarti orang tua kehilangan wibawa. Justru anak belajar bahwa setiap orang bertanggung jawab terhadap perilakunya, termasuk orang dewasa.
Mulai dari Hal Sederhana di Rumah
Parenting responsif tidak selalu membutuhkan metode yang rumit. Kebiasaan sederhana dapat menjadi fondasi yang kuat dalam perkembangan anak.
Orang tua dapat memulainya dengan menyediakan waktu untuk benar-benar mendengarkan anak, memberikan perhatian ketika anak berbicara, membantu anak menamai emosinya, memberikan batasan yang konsisten, serta menyediakan kesempatan bagi anak untuk bermain dan mengambil keputusan sederhana.
Lima belas menit bermain bersama tanpa gawai terkadang lebih bermakna daripada berjam-jam berada di rumah tetapi masing-masing sibuk dengan layar.
Pada akhirnya, anak tidak hanya mengingat apa yang dikatakan orang tua. Mereka juga mengingat bagaimana perasaan mereka ketika berada bersama orang tua.
Membangun Generasi yang Tumbuh dengan Aman
Pengasuhan pada masa kanak-kanak merupakan proses panjang yang tidak hanya membentuk perilaku anak saat ini, tetapi juga menjadi bagian dari fondasi perkembangan sosial dan emosional mereka di masa depan.
Anak membutuhkan orang tua yang mampu memberikan batasan sekaligus kehangatan, mengajarkan aturan sekaligus mendengarkan, serta membimbing tanpa mengabaikan perasaan.
Di tengah perubahan zaman dan derasnya perkembangan teknologi, tantangan parenting mungkin akan terus berubah. Namun, kebutuhan dasar anak tetap sama: merasa aman, diterima, didengarkan, dan dicintai.
Karena itu, parenting yang baik bukan tentang seberapa banyak aturan yang mampu dibuat orang tua, melainkan seberapa mampu orang tua hadir dan terhubung dengan anak dalam proses tumbuh kembangnya.(LN)
